This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Friday, 2 March 2012

FIFA Akan Melakukan Investigasi Atas Kekalahan Indonesia 0-10 dari Bahrain

FIFA telah mengumumkan bahwa mereka berencana melakukan investigasi kemenangan Bahrain atas Tim Nasional Indonesia 10-0. Sebuah pernyataan dari FIFA seperti dilansir dailymail.co.uk mengatakan departemen keamanan perusahaan akan melakukan pemeriksaan rutin dari hasil pertandingan tersebut. Penyelidikan itu didasari atas hasil yang tidak biasa terhadap ekspektasi hasil dan head-to-head sejarah, dan demi kepentingan menjaga kepercayaan tegas dalam sebuah permainan. Insiden pengusiran kiper tim nasional Indonesia,Samsidar dari lapangan dan tim tuan rumah bahkan mampu melewatkan dua penalti ditambah lagi masih menang dengan angka yang besar, itu adalah sebuah hal yang konyol. Peter Taylor, mantan pemain internasional Inggris dan juga ikut angkat bicara. Ia mengatakan diperlukan usaha keras dalam mencari selisih gol untuk membuka kesempatan menang dalam pertandingan tersebut. "Mereka sepatutnya mencapai scoreline yang mereka perlukan, tetapi menyamakan kedudukan 86 menit dari Qatar terhadap Iran berakhirlah harapan mereka dari kualifikasi,"kata Taylor.

Jeruk Dapat Mengurangi Resiko Stroke

Peneliti mengklaim bahwa jeruk dan grapefruit (sejenis jeruk, namun berukuran besar seperti jeruk bali) dapat mengurangi resiko stroke. Kedua buah tersebut baik dikonsumsi utuh maupun dalam bentuk jus di pagi hari. Ini terjadi karena jeruk dan grapefruit mengandung zat antioksidan tertentu yang bernama flavanones. Penelitian ini memang melibatkan ribuan wanita yang ikut dalam Studi Kesehatan Perawat di Amerika, namun juga dipercaya sama efeknya terhadap lelaki. Memakan waktu hampir 14 tahun, 69.622 wanita tersebut melaporkan asupan makanan mereka termasuk rincian tentang konsumsi buah dan sayur setiap 4 tahun. Fakta yang terlihat adalah wanita yang mengkonsumsi flavanones jumlah tinggi dalam jeruk memiliki risiko 19 persen lebih rendah terkena stroke akibat darah yang membeku (iskemik) daripada wanita yang mengkonsumsi dengan jumlah yang sedikit. Dibutuhkan sekitar 45mg flavanones sehari untuk mengurangi resiko stroke yang bisa didapatkan dari segelas jus jeruk. Namun peneliti tersebut juga menegaskan bahwa mengkonsumsi jenis buah dan sayur lain sebagai bentuk diet seimbang akan sangat berpengaruh terhadap resiko stroke. Sumber Dailymail

Thursday, 1 March 2012

Puasa Lancar, Badan Tetap Bugar

Setiap tahun Umat Islam akan menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Puasa diyakini memberikan dampak positif bagi tubuh manusia, dan telah dilakukan banyak penelitian atas manfaatnya.

Fisiologi Puasa
Puasa secara fisiologis adalah membatasi asupan makanan dan minuman antara terbit fajar sampai dengan terbenam matahari. Lamanya bervariasi, tergantung letak geografis suatu daerah di bumi yang berpengaruh terhadap lamanya siang dan malam. Di Indonesia, lama waktu puasa antara 12 sampai dengan 14 jam. Pada saat menjalankan puasa sesungguhnya, perut tidak mutlak kosong. Sisa makan sahur masih akan berada dalam saluran cerna dan dicerna sempurna selama kurang lebih delapan jam. Dengan demikian, hanya sekitar empat jam lambung dalam kondisi nyaris kosong. Getah lambung yang dihasilkan akan mencerna sisa endapan lemak dan residu bahan pangan yang mungkin masih lengket di dinding usus. Jika dilakukan dalam jangka waktu satu bulan, maka akan didapati suasana saluran cerna yang relatif bersih dan kondusif untuk mencerna dan menyerap zat gizi dari bahan pangan yang dikonsumsi. Kondusifitas semacam ini akan terjadi selama bulan puasa jika orang yang berpuasa tidak berbuka dengan cara makan berlebihan, cukup makan biasa dengan mengisi sepertiga lambung dengan padatan, sepertiganya cairan dan sepertiga lagi udara.
Dalam keadaan puasa sempurna, saluran cerna relatif diistirahatkan, sehingga kebutuhan oksigen tidak terlalu tinggi, dan oksigen yang ada disebarkan secara merata ke semua organ termasuk otak. Hasilnya adalah semua organ tercukupi kebutuhan oksigennya dan dapat menjalankan fungsinya dengan lebih baik. Jika semua organ bisa berfungsi optimal, maka orang yang berpuasa akan mendapatkan kondisi kesehatannya yang optimal pula. Otak yang berfungsi optimal akan memudahkan proses berfikir dan menganalisis.
Di luar Ramadhan (saat tidak berpuasa), jika merasa lapar biasanya orang akan makan. Ketika berpuasa, rasa lapar itu harus dibiarkan sampai tiba waktunya berbuka. Membiarkan sinyal lapar untuk beberapa jam itu sebenarnya adalah memberi kesempatan pembersihan optimal saluran cerna oleh getah lambung dan enzim pencernaan, dari sampah dan residu makanan selama sebelas bulan sebelumnya. Selanjutnya, saluran cerna yang tidak dibebani oleh bahan pangan berlebihan saat berpuasa, akan memberi waktu yang cukup bagi perbaikan seluler pada dinding usus. Sel-sel yang rusak akibat gesekan fisik maupun kimia selama sebelas bulan tentu banyak yang mengalami trauma histologis. Dengan mengurangi beban pencernaan selama sebulan, maka kondisi seluler dinding usus akan kembali ke keadaan sehat, fit, dan optimal, serta siap menjalankan tugas berat mencerna makanan sebelas bulan berikutnya.
Manfaat Puasa Bagi Kesehatan
Setelah memahami fisiologif puasa, jelas banyak manfaat yang dapat diberikan dengan berpuasa , antara lain :
• Selama berpuasa, tubuh akan mengistirahatkan sistem pencernaan. Energi yang cukup besar untuk melakukan proses pencernaan ini akan disimpan untuk menyembuhkan diri dan memperbaiki sel tubuh. Energi akan digunakan untuk membersihkan racun dari usus, darah, serta menyembuhkan sel-sel tubuh dari berbagai penyakit.
• Berpuasa mampu menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh, memperbaiki fungsi hormon, meremajakan sel-sel tubuh, serta meningkatkan fungsi organ tubuh.
• Puasa meningkatkan fungsi organ reproduksi. Hal ini terkait dengan peremajaan sel-sel yang berpengaruh pada sel-sel urogenitalis dan alat-alat reproduksi lainnya. Hormon yang berkaitan dengan masalah perilaku seksual dihasilkan oleh organ indung telur (estrogen) dan testis (testosteron), dan kelenjar hipofisis.
• Menambah jumlah sel darah putih dan meningkatkan daya tahan tubuh. Pada minggu pertama puasa belum ditemukan pertumbuhan sel darah putih. Namun, mulai hari ketujuh (minggu kedua), penambahan sel darah putih pesat sekali.
• Meningkatkan fungsi organ tubuh. Puasa akan memberikan rangsangan terhadap seluruh sel, jaringan, dan organ tubuh. Efek rangsangan ini akan menghasilkan, memulihkan, dan meningkatkan fungsi organ sesuai fungsi fisiologisnya, misalnya panca indra menjadi lebih tajam.
• Puasa memperkecil sirkulasi darah sebagai perimbangan untuk mencegah keluarnya keringat dan uap melalui pori-pori kulit serta saluran kencing tanpa perlu menggantinya. Menurunnya curah jantung dalam mendistribusikan darah ke seluruh pembuluh darah akan membuat sirkulasi darah menurun. Dan ini memberi kesempatan otot jantung untuk beristirahat, setelah bekerja keras satu tahun lamanya. Puasa akan memberi kesempatan pada jantung untuk memperbaiki vitalitas dan kekuatan sel-selnya.
• Memperbaiki fungsi hormon yang diperlukan dalam berbagai proses fisiologis dan biokimia tubuh. Hormon dikeluarkan oleh kelenjar endokrin dan hipofisis sebagai reaksi tubuh terhadap berbagai tekanan dan stress lingkungan. Kekurangan atau kelebihan produksi hormon tertentu akan berdampak buruk pada kesehatan tubuh. Misal ketika mengalami stres, hormon insulin dan adrenalin yang mengatur waktu lapar terganggu sehingga nafsu makan hilang atau bahkan datang lebih cepat. Kekurangan produksi hormon insulin berakibat munculnya penyakit diabetes, sedangkan bila berlebihan tubuh akan menderita hiperglikemia. Pada saat puasa , konisi lapar dan lesu secara psikologis akan menurunkan tingkat emosi sehingga respon terhadap tekanan dan stress dari lingkungan lebih mudah dihadapi.

Menjaga Kebugaran Selama Berpuasa
Berpuasa tidak perlu dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan tidak beraktivitas. Ada dua hal utama yang dapat dilakukan agar tetap bugar untuk beraktivitas selama menjalankan ibadah puasa. Yang pertama yaitu mengatur menu buka dan sahur dengan menu seimbang ; maksudnya adalah mengkonsumsi makanan yang terdiri dari karbohidrat 50-60%, protein 10-20%, lemak 20-25%, cukup vitamin dan mineral dari sayur dan buah. Selain itu, cukup serat dari sayuran untuk memperlancar buang air besar serta cukup cairan dengan minum kurang lebih 7-8 gelas sehari yang terdiri dari 3 gelas waktu sahur dan 5 gelas dari buka sampai sebelum tidur. Pembagian makan adalah 50% untuk berbuka, 10% setelah sholat tarawih, 40% pada waktu sahur. Hal kedua yang dapat dilakukan untuk menjaga kebugaran adalah berolahraga. Aktivitas olahraga yang cocok selama bulan puasa adalah olahraga jenis aerobik yang merupakan aktivitas fisik dengan menggunakan oksigen sebagai sumber energi. Aerobik dapat dilakukan dengan gerakan seimbang dan berulang-ulang seperti jalan kaki, jogging atau jika memungkinkan berenang. Atau melakukan aerobik ringan lain seperti yoga, meditasi, taichi maupun stretching. Waktu untuk berolahraga juga tidak perlu setiap hari, orang berpuasa disarankan cukup 3-5 kali seminggu selama 30 menit saja yang dapat dilakukan setelah sholat subuh atau menjelang berbuka agar cairan yang hilang ketika berolahraga dapat segera tergantikan saat berbuka.
Selain bernilai ibadah, puasa juga memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Dengan niat kuat dan pengaturan ‘gaya’ berpuasa yang baik, semoga Ramadhan kali ini dilalui dengan puasa lancar dan badan tetap bugar. Selamat menjalankan ibadah puasa. 
(anjas)

Referensi:

Nugrahalia, M. 2010. Memahami Fisiologis Puasa.
(http://waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=5236:poltabes-tunggu-kesiapan-forensik-otopsi-david&catid=45:kriminal&Itemid=132, diakses tanggal 20 Juli 2011)

Fauziyati, A. 2008. Adaptasi Fisiologis Selama Puasa
(http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/51084346.pdf, diakses tanggal 20 Juli 2011)

Adi. 2009. Manfaat Puasa Bagi Kesehatan.
(http://seputarobat.blogspot.com/2009/08/manfaat-puasa-bagi-kesehatan.html,diakses tanggal 20 Juli 2011)

Administrator. 2010. Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh.
(http://melindahospital.com/modul/user/detail_artikel.php?id=787_Manfaat-Puasa-Bagi-Kesehatan-Tubuh, diakses tanggal 20 Juli 2011)

Yep. 2009. Tips Dari Dokter Agar Tetap Bugar Dan Tidak Loyo Selama Berpuasa.
(http://yepiye.wordpress.com/2011/07/24/tips-dari-dokter-agar-tetap-bugar-dan-tidak-loyo-selama-berpuasa/, diakses tanggal 20 Juli 2011)

Poliomyelitis

Campak atau yang disebut juga Morbili adalah salah satu penyakit akut yang sangat menular. Campak disebabkan oleh Morbilivirus yang masuk dalam Family Paramixovirus. Campak sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kecacatan dan juga kematian karena komplikasinya seperti radang paru (Pneumonia), diare, radang telinga (Otitis Media), kebutaan dan radang otak (Ensefalitis) (Guris, 2002, p.2).
Penyakit campak dapat ditularkan dari percikan ludah yang keluar dari mulut atau tenggorokan penderita yang ditransmisikan melalui udara atau melalui kontak langsung dengan sekresi hidung penderita campak (Guris, 2002, p.2). Cara Kerja Campak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Di Negara yang sedang berkembang tingkat kematian diperkirakan berkisar antara 3% – 6 % dengan tingkat kematian tertinggi terjadi pada bayi berusia dibawah 12 bulan yaitu berkisar antara 20% -30%. Berbeda dengan Negara yang sedang berkembang, di Negara yang sudah berkembang tingkat kematian cenderung rendah yaitu berkisar antara 0,1 sampai 1 per 1000 kasus (Guris, 2002, p.2). 
Di Indonesia penyakit campak masih menjadi penyebab utama kematian anak di bawah umur 1 tahun dan balita umur 1 – 4 tahun. Diperkirakan lebih dari 30.000 anak/tahun meninggal karena campak (Portal Nasional Republik Indonesia, 2009) Masa inkubasi penyakit campak yang tanpa gejala biasanya berkisar antara 10-12 hari namun demikian gejala prodromal (awal) seperti demam, lesu, batuk, beringus (Coryza), dan mata merah (Conjunctivitis) bisa muncul pada waktu sekitar sekitar 7 -18 hari setelah terpapar virus campak. koplik spot pada mukosa mulut biasanya akan muncul sesaat atau sekitar 1-3 hari sebelum munculnya ruam, namun demikian tidak adanya koplik spot bukan berarti campaknya tidak akan muncul. Pada saat terjadi gejala Prodromal yang berlangsung sekitar 2-4 harimuncullah ruam yang disebut Maculopapular Rash (ruam kemerahan) pada telinga bagian belakang dan di muka. Pada tahap ini demam akan semakin tinggi dengan suhu mencapai 40,60C (1050F). Ruam kemudian akan menyebar ke leher dan akhirnya ke ekstremitas (anggota gerak tubuh, seperti tangan dan kaki). Ruam tersebut biasanya akan ada/bertahan selama 3 – 7 hari. Ruam akan menghitam, mengelupas dan menghilang sekitar 1 – 2 minggu. Adanya kulit kehitaman dan bersisik dapat merupakan tanda penyembuhan. Batuk akan muncul selama periode demam, yang berlangsung sekitar 1 – 2 minggu pada kasus yang tidak komplikasi (Guris, 2002, p.2). Penyakit campak dapat sembuh dengan sendirinya dengan asupan gizi yang baik (makan dan minum cukup) dan istirahat yang cukup. Orang yang pernah terkena Campak (terinfeksi campak secara alami) akan memperoleh Kekebalan seumur hidup (Guris, 2002, p.2). Pencegahan penyakit campak dapat dilakukan dengan imunisasi. Disamping itu gizi yang baik, pemberian vitamin A dua kali dalam setahun dan kondisi rumah yang sehat juga dapat mengurangi kejadian campak sebagaimana disimpulkan dari hasil penelitian Hendarto (2004) di Grobogan Jawa Tengah. Karena itu peneliti menyarankan untuk meningkatkan cakupan imunisasi campak,pemberiaan vitamin A dan perbaikan rumah sehat untuk menurunkan angka kejadian campak pada balita (Hendarto, 2004). Penyakit campak dapat dicegah dengan imunisasi yang diberikan saat bayi berusia 9 bulan. Pemberian imunisasi juga bisa memberikan kekebalan seumur hidup pada sebagian besar orang. Berdasarkan estimasi bersama oleh WHO dan UNICEF Indonesia masih menempati peringkat keempat di antara negara-negara dengan sejumlah besar anak-anak yang tidak divaksin atau hanya mendapatkan sebagian vaksinasi saja (UNICEF Indonesia, 2009). Pemberantasan penyakit campak dibedakan berdasarkan tahapannya yaitu: 1. Tahap Reduksi • Pada tahap ini lebih ditekankan kepada penurunan angka kematian campak karena kasus campak masih cukup tinggi dan masih endemik. • Pada phase ini kegiatan surveilans yang dilakukan adalah surveilans campak klinis dengan agregat data. Setiap KLB dilakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) dan dilakukan konfirmasi laboratorium serta peningkatan manajemen kasus. • Bagi negara yang telah melaksanakan imunisasi campak tambahan (kampanye campak) maka surveillans campak diarahkan kepada surveilans individu (case based surveillance) dengan konfirmasi laboratorium semaksimal mungkin (surveilans campak, p.7). • Tahap ini dibagi dalam 2 tahap : a. Tahap pengendalian campak Pada tahap ini ditandai dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak rutin dan upaya imunisasi tambahan di daerah dengan morbiditas campak yang tinggi. Daerah-daerah ini masih merupakan daerah endemis campak, tetapi telah terjadi penurunan insiden dan kematian, dengan pola epidemiologi kasus campak menunjukkan 2 puncak setiap tahun (pendahuluan). b. Tahap Pencegahan KLB Cakupan imunisasi dapat dipertahankan tinggi > 80% dan merata, terjadi penurunan tajam kasus dan kematian, insiden campak telah bergeser kepada umur yang lebih tua, dengan interval KLB antara 4-8 tahun. 2. Tahap Eliminasi • Cakupan imunisasi sangat tinggi > 95% dan daerah-daerah dengan cakupan imunisasi rendah sudah sangat kecil jumlahnya. • Anak-anak yang dicurigai rentan (tidak terlindung) harus diselidiki dan diberikan imuniasi campak. • Insiden campak sudah sangat rendah dan KLB campak hampir tidak pernah terjadi. • Pada phase ini surveilans campak adalah case based atau individual record yang disertai pemeriksaan laboratorium untuk semua kasus campak. • Setiap KLB harus diinvestigasi dan semua kasus tercatat secara individual (case linelisted) dan dilakukan konfirmasi laboratorium. Dan penyelidikan rumah ke rumah jika terjadi KLB. 3. Tahap Eradikasi. • Cakupan imunisasi sangat tinggi dan merata • Kasus campak sudah tidak ditemukan. • Transmisi virus campak sudah dapat diputuskan dan negara-negara di dunia sudah memasuki tahap eliminasi. (pendahuluan) Di Indonesia program pencegahan dan pemberantasan penyakit campak saat ini masih berada pada tahap Reduksi. Pemerintah Indonesia mentargetkan untuk mengurangi kasus dan mencegah kematian akibat campak hingga 90% hingga akhir tahun 2010 hal ini juga akan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan millenium tentang kesehatan anak. Untuk mencapai tujuan pengendalian penyakit Campak maka dilakukan upaya sebagai berikut: 1 . Mencapai cakupan imunisasi campak dosis pertama >90% secara nasional yang mencakup >80% Kabupaten/Kota pada tahun 2010. 2 . Penyelidikan dan manajemen kasus pada semua KLB campak tahun 2009. 3 . Melaksanakan surveilans campak berbasis kasus individu (Case Based Surveillance) bagi semua negara yang telah melaksanakan kampanye campak. 4 . Melaksanakan imunisasi campak kesempatan kedua dengan cakupan >90%. Peranan surveilans campak pada tahap Reduksi menjadi sangat penting karena dengan surveilans perkembangan program pemberantasan campak dapat dievaluasi disamping hasil surveilans campak dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan strategi pengendalian dan pemberantasan campak di setiap daerah. Kegiatan surveilans campak berbasis kasus individu dan dilaksanakan secara bertahap yaitu dari tingkat puskesmas, Rumah Sakit, Tingkat kabupaten/kota dan propinsi. Kegiatan di masing-masing tingkat tentunya berbeda-beda, hal ini telah diatur dalam Petunjuk Teknis Surveilans Campak yang diterbitkan Sub Direktorat Surveilans Epidemiologi dan Direktorat Surveilans Epidemiologi Imunisasi & Kesehatan Matra Direktorat Jenderal PP & PL Depkes RI Tahun 2008. Gejala klinis penyakit Campak seringkali menyerupai penyakit infeksi virus lainnya, maka untuk menegakkan diagnosa pasti dari suatu kasus tersangka campak adalah melalui pemeriksaan laboratorium. Karena itu Laboratorium mempunyai peran dan fungsi dalam Pengendalian Kasus Campak dan Eliminasi sebagai berikut: 1. Monitoring dan pengujian transmisi virus campak 2. Konfirmasi suatu outbreak campak 3. Konfirmasi suatu kasus campak 4. Identifikasi strain dari virus ataupun karakter genetiknya. 5. Monitoring profil dari populasi yang rentan • Melihat distribusi umur yang memerlukan imunisasi • Evaluasi dari imunisasi masal (Depkes RI, 2008, p.45) Tahap eradikasi campak mungkin masih jauh untuk diraih, diperkirakan eradikasi akan dapat dicapai dalam waktu 10 – 15 tahun setelah eliminasi. Beberapa Negara bahkan masih belum memasuki tahap eliminasi demikian halnya dengan Indonesia yang masih dalam tahap Reduksi. Namun demikian keyakinan bahwa penyakit campak dapat dieradikasi karena satu-satunya pejamu (host)/reservoir campak hanya pada manusia dan tersedianya vaksin yang mempunyai potensi yang cukup tinggi yaitu effikasi vaksin 85%, serta mudahnya virus mati karena terpapar udara dan sinar matahari seharusnya membuat langkah kita semakin mantap dalam menuju eliminasi campak. Dengan pelaksanaan strategi yang disusun berdasarkan pelaksanaan surveilans yang adekuat mungkin kita tidak perlu menunggu berpuluh tahun untuk masuk dalam tahap eradikasi malaria. (Dien)

Upaya Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Campak

Campak atau yang disebut juga Morbili adalah salah satu penyakit akut yang sangat menular. Campak disebabkan oleh Morbilivirus yang masuk dalam Family Paramixovirus. Campak sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kecacatan dan juga kematian karena komplikasinya seperti radang paru (Pneumonia), diare, radang telinga (Otitis Media), kebutaan dan radang otak (Ensefalitis) (Guris, 2002, p.2). Penyakit campak dapat ditularkan dari percikan ludah yang keluar dari mulut atau tenggorokan penderita yang ditransmisikan melalui udara atau melalui kontak langsung dengan sekresi hidung penderita campak (Guris, 2002, p.2).
Cara Kerja Campak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Di Negara yang sedang berkembang tingkat kematian diperkirakan berkisar antara 3% – 6 % dengan tingkat kematian tertinggi terjadi pada bayi berusia dibawah 12 bulan yaitu berkisar antara 20% -30%. Berbeda dengan Negara yang sedang berkembang, di Negara yang sudah berkembang tingkat kematian cenderung rendah yaitu berkisar antara 0,1 sampai 1 per 1000 kasus (Guris, 2002, p.2). Di Indonesia penyakit campak masih menjadi penyebab utama kematian anak di bawah umur 1 tahun dan balita umur 1 – 4 tahun. Diperkirakan lebih dari 30.000 anak/tahun meninggal karena campak (Portal Nasional Republik Indonesia, 2009) Masa inkubasi penyakit campak yang tanpa gejala biasanya berkisar antara 10-12 hari namun demikian gejala prodromal (awal) seperti demam, lesu, batuk, beringus (Coryza), dan mata merah (Conjunctivitis) bisa muncul pada waktu sekitar sekitar 7 -18 hari setelah terpapar virus campak. koplik spot pada mukosa mulut biasanya akan muncul sesaat atau sekitar 1-3 hari sebelum munculnya ruam, namun demikian tidak adanya koplik spot bukan berarti campaknya tidak akan muncul. Pada saat terjadi gejala Prodromal yang berlangsung sekitar 2-4 harimuncullah ruam yang disebut Maculopapular Rash (ruam kemerahan) pada telinga bagian belakang dan di muka. Pada tahap ini demam akan semakin tinggi dengan suhu mencapai 40,60C (1050F). Ruam kemudian akan menyebar ke leher dan akhirnya ke ekstremitas (anggota gerak tubuh, seperti tangan dan kaki). Ruam tersebut biasanya akan ada/bertahan selama 3 – 7 hari. Ruam akan menghitam, mengelupas dan menghilang sekitar 1 – 2 minggu. Adanya kulit kehitaman dan bersisik dapat merupakan tanda penyembuhan. Batuk akan muncul selama periode demam, yang berlangsung sekitar 1 – 2 minggu pada kasus yang tidak komplikasi (Guris, 2002, p.2). Penyakit campak dapat sembuh dengan sendirinya dengan asupan gizi yang baik (makan dan minum cukup) dan istirahat yang cukup. Orang yang pernah terkena Campak (terinfeksi campak secara alami) akan memperoleh Kekebalan seumur hidup (Guris, 2002, p.2). Pencegahan penyakit campak dapat dilakukan dengan imunisasi. Disamping itu gizi yang baik, pemberian vitamin A dua kali dalam setahun dan kondisi rumah yang sehat juga dapat mengurangi kejadian campak sebagaimana disimpulkan dari hasil penelitian Hendarto (2004) di Grobogan Jawa Tengah. Karena itu peneliti menyarankan untuk meningkatkan cakupan imunisasi campak,pemberiaan vitamin A dan perbaikan rumah sehat untuk menurunkan angka kejadian campak pada balita (Hendarto, 2004). Penyakit campak dapat dicegah dengan imunisasi yang diberikan saat bayi berusia 9 bulan. Pemberian imunisasi juga bisa memberikan kekebalan seumur hidup pada sebagian besar orang. Berdasarkan estimasi bersama oleh WHO dan UNICEF Indonesia masih menempati peringkat keempat di antara negara-negara dengan sejumlah besar anak-anak yang tidak divaksin atau hanya mendapatkan sebagian vaksinasi saja (UNICEF Indonesia, 2009). Pemberantasan penyakit campak dibedakan berdasarkan tahapannya yaitu: 1. Tahap Reduksi • Pada tahap ini lebih ditekankan kepada penurunan angka kematian campak karena kasus campak masih cukup tinggi dan masih endemik. • Pada phase ini kegiatan surveilans yang dilakukan adalah surveilans campak klinis dengan agregat data. Setiap KLB dilakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) dan dilakukan konfirmasi laboratorium serta peningkatan manajemen kasus. • Bagi negara yang telah melaksanakan imunisasi campak tambahan (kampanye campak) maka surveillans campak diarahkan kepada surveilans individu (case based surveillance) dengan konfirmasi laboratorium semaksimal mungkin (surveilans campak, p.7). • Tahap ini dibagi dalam 2 tahap : a. Tahap pengendalian campak Pada tahap ini ditandai dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak rutin dan upaya imunisasi tambahan di daerah dengan morbiditas campak yang tinggi. Daerah-daerah ini masih merupakan daerah endemis campak, tetapi telah terjadi penurunan insiden dan kematian, dengan pola epidemiologi kasus campak menunjukkan 2 puncak setiap tahun (pendahuluan). b. Tahap Pencegahan KLB Cakupan imunisasi dapat dipertahankan tinggi > 80% dan merata, terjadi penurunan tajam kasus dan kematian, insiden campak telah bergeser kepada umur yang lebih tua, dengan interval KLB antara 4-8 tahun. 2. Tahap Eliminasi • Cakupan imunisasi sangat tinggi > 95% dan daerah-daerah dengan cakupan imunisasi rendah sudah sangat kecil jumlahnya. • Anak-anak yang dicurigai rentan (tidak terlindung) harus diselidiki dan diberikan imuniasi campak. • Insiden campak sudah sangat rendah dan KLB campak hampir tidak pernah terjadi. • Pada phase ini surveilans campak adalah case based atau individual record yang disertai pemeriksaan laboratorium untuk semua kasus campak. • Setiap KLB harus diinvestigasi dan semua kasus tercatat secara individual (case linelisted) dan dilakukan konfirmasi laboratorium. Dan penyelidikan rumah ke rumah jika terjadi KLB. 3. Tahap Eradikasi. • Cakupan imunisasi sangat tinggi dan merata • Kasus campak sudah tidak ditemukan. • Transmisi virus campak sudah dapat diputuskan dan negara-negara di dunia sudah memasuki tahap eliminasi. (pendahuluan) Di Indonesia program pencegahan dan pemberantasan penyakit campak saat ini masih berada pada tahap Reduksi. Pemerintah Indonesia mentargetkan untuk mengurangi kasus dan mencegah kematian akibat campak hingga 90% hingga akhir tahun 2010 hal ini juga akan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan millenium tentang kesehatan anak. Untuk mencapai tujuan pengendalian penyakit Campak maka dilakukan upaya sebagai berikut: 1 . Mencapai cakupan imunisasi campak dosis pertama >90% secara nasional yang mencakup >80% Kabupaten/Kota pada tahun 2010. 2 . Penyelidikan dan manajemen kasus pada semua KLB campak tahun 2009. 3 . Melaksanakan surveilans campak berbasis kasus individu (Case Based Surveillance) bagi semua negara yang telah melaksanakan kampanye campak. 4 . Melaksanakan imunisasi campak kesempatan kedua dengan cakupan >90%. Peranan surveilans campak pada tahap Reduksi menjadi sangat penting karena dengan surveilans perkembangan program pemberantasan campak dapat dievaluasi disamping hasil surveilans campak dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan strategi pengendalian dan pemberantasan campak di setiap daerah. Kegiatan surveilans campak berbasis kasus individu dan dilaksanakan secara bertahap yaitu dari tingkat puskesmas, Rumah Sakit, Tingkat kabupaten/kota dan propinsi. Kegiatan di masing-masing tingkat tentunya berbeda-beda, hal ini telah diatur dalam Petunjuk Teknis Surveilans Campak yang diterbitkan Sub Direktorat Surveilans Epidemiologi dan Direktorat Surveilans Epidemiologi Imunisasi & Kesehatan Matra Direktorat Jenderal PP & PL Depkes RI Tahun 2008. Gejala klinis penyakit Campak seringkali menyerupai penyakit infeksi virus lainnya, maka untuk menegakkan diagnosa pasti dari suatu kasus tersangka campak adalah melalui pemeriksaan laboratorium. Karena itu Laboratorium mempunyai peran dan fungsi dalam Pengendalian Kasus Campak dan Eliminasi sebagai berikut: 1. Monitoring dan pengujian transmisi virus campak 2. Konfirmasi suatu outbreak campak 3. Konfirmasi suatu kasus campak 4. Identifikasi strain dari virus ataupun karakter genetiknya. 5. Monitoring profil dari populasi yang rentan • Melihat distribusi umur yang memerlukan imunisasi • Evaluasi dari imunisasi masal (Depkes RI, 2008, p.45) Tahap eradikasi campak mungkin masih jauh untuk diraih, diperkirakan eradikasi akan dapat dicapai dalam waktu 10 – 15 tahun setelah eliminasi. Beberapa Negara bahkan masih belum memasuki tahap eliminasi demikian halnya dengan Indonesia yang masih dalam tahap Reduksi. Namun demikian keyakinan bahwa penyakit campak dapat dieradikasi karena satu-satunya pejamu (host)/reservoir campak hanya pada manusia dan tersedianya vaksin yang mempunyai potensi yang cukup tinggi yaitu effikasi vaksin 85%, serta mudahnya virus mati karena terpapar udara dan sinar matahari seharusnya membuat langkah kita semakin mantap dalam menuju eliminasi campak. Dengan pelaksanaan strategi yang disusun berdasarkan pelaksanaan surveilans yang adekuat mungkin kita tidak perlu menunggu berpuluh tahun untuk masuk dalam tahap eradikasi malaria. (Dien)

Wednesday, 29 February 2012

Global Positioning System (GPS)

Pengertian
GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan serta informasi mengenai waktu, secara kontinyu. GPS dapat memberikan informasi posisi dengan ketelitian bervariasi dari beberapa millimeter (orde nol) sampai dengan puluhan meter.
GPS pada awalnya dikembangkan dan dioperasikan oleh Departemen Pertahanan Amerika. Semula GPS dikenal dengan NAVSTAR (Navigation System with Timing and Ranging).
Semula GPS dipergunakan untuk menyediakan kemampuan navigasi sepanjang waktu, dalam segala cuaca untuk militer darat, laut, maupun udara. Disamping untuk navigasi dan penetuan posisi geografis, GPS kini juga dipergunakan untuk pemetaan, kehutanan, eksplorasi mineral, manajemen habitat liar, dan pengawasan perpindahan penduduk.
Cara Kerja
GPS bekerja dengan menggunakan satelit yang mengelilingi bumi sehingga penerima-penerima sinyal di permukaan bumi dapat menangkap sinyalnya. Satelit mengorbit di atas bumi dan mampu mengelilingi bumi dua kali dalam 24 jam.
Satelit GPS secara kontinyu mengirimkan sinyal radio digital yang mengandung data lokasi satelit dan waktu, pada penerima yang berhubungan. Satelit GPS dilengkapi dengan jam atom yang mempunyai ketepatan waktu satu per satu juta detik. stasiun penerima mengetahui berapa lama waktu yang digunakan untuk mengirim sinyal sampai kepada penerima di bumi. Semakin lama waktu yang digunakan untuk sampai ke penerima, berarti semakin jauh posisi satelit dari stasiun penerima.
Untuk menentukan posisi dalam 2 dimensi (garis lintang dan garis bujur), penerima GPS minimal harus mendeteksi sinyal dari 3 buah satelit. Koordinat 3 dimensi yang mencakup ketinggian lokasi bisa ditentukan jika alat penerima mendapat sinyal dari 4 buah satelit atau lebih.
Pada perkembangannya hingga bulan Nopember tahun 2007, jumlah satelit yang ada sudah mencapai 52 satelit. Berikut gambaran satelit yang digunakan GPS:

BAGIAN-BAGIAN GPS
GPS terdiri dari 3 bagian yaitu :
1. Space yang mengatur konstelasi satelit.
2. Control yang memantau dan mengatur operasional satelit dan memastikan bahwa satelit berfungsi sebagaimana mestinya dalam mengirimkan data.
3. User sebagai pengguna GPS. Alat penerima sinyal GPS ( GPS receiver ) diperlukan untuk menerima dan memproses sinyal - sinyal dari satelit GPS untuk digunakan dalam penentuan posisi, kecepatan dan waktu.