Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Showing posts with label Teknologi Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Teknologi Kesehatan. Show all posts
Rumah sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan merupakan
penghasil limbah medis dalam klasifikasi limbah B3 (Bahan Beracun dan
Berbahaya) dimana dari berbagai jenis limbah yang dihasilkan bersifat infeksius
yang dapat berpotensi membahayakan dan menimbulkan permasalahan baru pada
kesehatan, baik yang berada didalam maupun diluar lingkungan rumah sakit.
Banyak rumah sakit yang sudah mempunyai IPLC (Instalasi
Pengolahan Limbah Cair) namun hasil pengolahan limbah cair akhir (Outlet) masih
ada beberapa parameter yang berada diatas baku mutu yang berlaku, seperti
phospat (PO4). Oleh karena perlu pengembangan model dan teknologi
untuk menurunkan kadar PO4 dalam limbah cair rumah sakit agar tidak
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Untuk menangani
permasalahan ini, model alat pengolahan kadar phosphate limbah cair rumah sakit
dengan koagulasi, flokulasi dan sedimentasi dapat diterapkan sehingga limbah
cair hasil pengolahan memenuhi baku mutu.
Spesifikasi:
1.Bak Contoh uji/equalisasi volume 92,4 L : kaca ukuran
P=55 cm L= 28 cm T= 60 cm
2.Bak inlet (asli) volume 80 L : kaca ukuran P=40 cm L= 40 cm T= 50 cm
3.Bak koagulan 2 buah volume 2,88 L : kaca ukuran P=12 cm L= 12 cm T= 20 cm
4.Bak Pencampur volume
8,0 L : kaca ukuran P=20 cm
L= 20 cm T= 20 cm
5.Bak Sedimentasi volume 58,32 L : kaca ukuran P=36 cm L= 36 cm T= 45 cm
6.Bak filtrasi volume 35 L berisi zeolit : kaca ukuran P=40 cm L= 36 cm T= 45 cm
7.Bak akhir (outlet) volume
30,45 L : kaca ukuran P=42 cm L=
25 cm T= 29 cm
8.Bak Pengering lumpur volume 19,5 L : kaca ukuran P=30 cm L= 25 cm T= 26 cm
9.Alas :
triplek 12 mm
10.Kerangka :
besi ukuran 4 x 4 cm
11.Mixer
modifikasi :
daya 12 watt, kecepatan 20 Rpm, adaptor
travo5 A, AC 220 Volt, DC 3-12 Volt
12.Pompa
air : Daya 110 W, 110/220 V, Freq 50/60 Hz,
Life
Head
4,2M out put 4500 L/H
13.Kran
Air : ½ ”
Cara Kerja
1.Rangkai semua bak pada rangka sehingga siap untuk
pengolahan.
2.Tampung limbah cair rumah sakit dalam bak equalisasi.
3.Pompa ke bak inlet (asli) dan dialirkan ke dalam bak
pencampur dengan debit 100 ml/menit.
4.Bahan koagulan kapur (CaO) 4 % dengan debit 20 ml/menit
dan tawas (Al2SO4) 4 % dengan debit 37,5 ml/menit dialirkan secara bersamaan ke
dalam bak pencampur dan diaduk menggunakan mixer dengan kecepatan 20 RPM.
5.Dari bak pencampur, limbah cair dialirkan dalam bak
sedimentasi dan mengalami pengendapan.
6.Efluent dari bak sedimentasi mengalir ke bak filtrasi
berisi zeolit.
7.Filtrat hasil saringan zeolit mengalir ke bak akhir
(outlet)
8.Endapan pada bak pengendap dialirkan ke bak pengering
lumpur
9.Cara Pemeliharaan
10.Cek
kran-kran secara rutin agar tidak terjadi penyumbatan.
11.Cek
pompa secara rutin untuk menghindari kemacetan pompa.
12.Cek
mixer secara rutin agar kecepatannya tetap 20 RPM.
13.Pengaliran
endapan dari bak pengendap harus rutin agar waktu tinggal di bak pengendap
terpenuhi.
14.Pembersihan
terhadap zeolit dilakukan apabila aliran sudah mulai pelan.
Efektifitas
Model alat ini di uji coba pada 3
rumah sakit terbukti mampu
mengurangi kadar phosphat dengan efisiensi 88%.
NOx termasuk bahan pencemar udara yang diemisikan dari berbagai sumber salah satunya yang paling utama adalah dari sektor transportasi. Sebagai gambaran umum, sektor transportasi menyumbang pencemar NOx sebesar 69% di perkotaan, diikuti industri dan rumah tangga. Gas NO2 sangat berbahaya bagi kesehatan manusia karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan (penurunan kapasitas fungsi paru), gas NOx juga dapat merusak tanaman dan mengurangi jarak pandang dan bersifat resisten di udara.
Menurut catatan, sekitar 10% pencemar udara pada setiap tahun adalah nitrogen oksida. Ada tujuh kemungkinan hasil reaksi bila nitrogen bereaksi dengan oksigen, antara lain adalah NO, NO2, N2O, N2O3, N2O4, N2O5, dan NO3. Dari semuanya yang jumlahnya cukup banyak ada tiga yaitu N2O, NO, dan NO2. Dari ketiga senyawa tersebut yang menjadi perhatian dalam pencemaran udara adalah NO dan NO2. Kadar NO2 di dalam NOx sekitar 10% (Mochtar Hadiwidodo, 2010).
Diantara berbagai jenis oksida nitrogen yang ada di udara, nitrogen dioksida (NO2) merupakan gas yang paling beracun. NO2 dapat menembus ke dalam saluran pernafasan. Bagian dari saluran yang pertama kali dipengaruhi adalah membran mukosa dan jaringan paru. Organ lain yang dapat dicapai oleh NO2 dari paru adalah aliran darah.
Data epidemologi tentang resiko pengaruh NO2 terhadap kesehatan manusia sampai saat ini belum lengkap, maka evaluasinya banyak didasarkan pada hasil studi eksperimental. Berdasarkan studi menggunakan binatang percobaan, pengaruh NO2 yang membahayakan seperti meningkatnya kepekaan terhadap radang saluran pernafasan dapat terjadi setelah mendapat pajanan NO2 sebesar 100 µg/m3. Percobaan pada manusia menyatakan bahwa pada kadar NO2 sebesar 250 µg/m3 dan 500 µg/m3 dapat mengganggu fungsi saluran pernafasan pada penderita asma dan orang sehat (Tri Tugaswati, 2009).
Pengujian NO2 yang dilakukan di laboratorium BBTKLPPM Yogyakarta menggunakan metode Griess Saltzman yang mengacu pada SNI 19-7119.2-2005 dan ASTM D 1607-91, 1995.
Prinsip pengujian :
Nitrogen Dioksida yang diserap oleh zat azo dye pada suasana asam akan membentuk warna merah muda yang stabil setelah 15 menit. Warna yang terbentuk dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 550 nm.
Kisaran konsentrasi :
Kisaran konsentrasi NO2 yaitu 4 – 10000 μg/m3 atau 0,02 – 5 ppm NO2
Peralatan :
a.Spektrofotometer
b.Pemanas listrik
c.Pipet volume 10 mL
d.Labu ukur 25, 100, dan 1000 mL
e.Gelas piala 100, 1000 mL
f.Gelas ukur 250 mL
g.Gelas arloji
h.kertas tissue yang lembut
i.Bubbler
j.Pompa hisap yang dapat digunakan pada kecepatan alir 0,4 L/mn
k.Slang karet
l.Flowmeter
m.Meja setinggi kurang lebih 1,5 m
n.Rak midget/bubbler
o.Sumber listrik/generator
p.Roll kabel
q.Thermometer atau psychromete.
r.Barometer
Bahan :
Larutan Penyerap NO2 dibuat dengan tahapan sebagai berikut:
a.Larutkan 5g asam sulfanilat anhidrat (5,5g asam sulfanilat monohidrat dalam hampir 1 L air suling bebas nitrit yang berisi 140mL asam asetat glasial dalam gelas piala 1000 mL).
b.Panaskan pelan-pelan sampai larut sempurna.
c.Dinginkan, tambah 20 mL larutan N-(1-naftil)etilendiamin dihidroklorida 0,1% dan 10mL aseton.
d.Encerkan dengan air suling bebas nitrit dalam labu ukur 1000mL hingga tepat tanda tera.
Pengambilan Contoh Uji :
1.Cek dan persiapkan semua peralatan yang akan digunakan untuk pengambilan contoh uji.
2.Isi bubbler dengan larutan penyerap sebanyak 10 mL.
3.Masukkan dalam rak midget/bubbler.
4.Setelah sampai lokasi, tentukan titik pengambilannya.
5.Letakkan rak midget/bubbler diatas meja setinggi kurang lebih 1,5 m.
6.Rangkaikan alat secara berurutan dengan slang karet: bubbler, penghilang uap air, flowmeter, pompa hisap, lalu hubungkan dengan sumber listrik.
7.Hidupkan sumber listrik.
8.Ukur kecepatan alir udara pada awal dan akhir pengambilan.
9.Ukur suhu dan tekanan udara selama pengambilan contoh uji.
10.Setelah 60 menit atau timbul perubahan warna menjadi ungu kemerahan, matikan sumber listrik.
11.Contoh uji siap untuk diuji.
Cara Pengujian :
1.Ukur volume contoh uji.
2.Masukkan kedalam kuvet pada spektrofotometer pada panjang gelombang 550 nm, baca absorbansinya.
3.Gunakan larutan penyerap NO2 sebagai blanko.
Perhitungan :
Dimana : K = faktor standardisasi, μgNO2/ mL larutan penyerap/absorbansi v = volume larutan penyerap, mL Vr = volume contoh uji udara, L Q1 = kecepatan awal alir pengambilan, L/mn Q2 = kecepatan akhir alir pengambilan, L/mn t = waktu pengambilan, menit P = tekanan udara, kPa T = suhu udara, K 101,3 = Tekanan udara standar, kPa 298,15 = suhu udara standar, K
Air Sampler – Impinger untuk pengambilan contoh uji di lapangan
Air bersih yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara umum bersumber dari air tanah yang diperoleh dari sumur gali ataupun sumur bor dengan kedalaman yang bervariasi. Kualitas air bersih yang bersumber dari air tanah dipengaruhi oleh kualitas lingkungan dan juga tekstur tanah di sekitar sumur.
Air dengan kadar Besi yang melebihi persyaratan mempunyai ciri-ciri antara lain berwarna coklat kekuning-kuningan, dan berbau anyir/ amis sehingga akan sangat mengganggu dari segi estetika. Dampak lain dari tingginya kadar Besi dalam air adalah timbulnya kerak pada perpipaan dan alat masak dan jika digunakan untuk mencuci pakaian akan meninggalkan noda yang berupa warna kekuningan pada pakaian. Besi sebenarnya adalah adalah unsur esensial yang dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk pembentukan Hb pada dosis yang dibutuhkan. Adanya kandungan Besi yang melebihi persyaratan dalam air bersih dikhawatirkan akan mengganggu sistem penyediaan air bersih bagi masyarakat.
Pengolahan untuk menurunkan kadar Besi di air dapat dilakukan secara sederhana. Salah satunya adalah dengan sistem aerasi atau penambahan Oksigen kedalam air baku. Teknik aerasi ini tidak dapat diterapkan pada semua kondisi/ kualitas air baku, sehingga dibutuhkan berbagai bentuk design sistem aerasi untuk penurunan kadar Besi. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai sistem aerasi untuk penurunan kadar Besi dengan metode spray.
Sebagaimana halnya semua sistem aerasi, konsep dasar aerasi dengan model spray ini juga berupa penambahan Oksigen kedalam air baku. Besi (Fe) dalam air secara umum berbentuk Fe tereduksi atau senyawa Ferro terlarut, sehingga dibutuhkan suatu perlakuan untuk merubah bentuk Ferro terlarut menjadi bentuk Ferri. Aerasi bertujuan untuk mengoksidasi Besi terlarut (Ferro) menjadi Ferri dengan menambahkan Oksigen kedalam air baku. Jika Besi dalam air sudah teroksidasi menjadi Ferro maka dapat dihidrolisa membentuk Hydrated ferric oxida yang tidak larut.
Penurunan kadar Fe dalam air dengan metode aerasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: tipe alat aerasi, ukuran dan bentuk bak aerasi, daya input per unit volume, suhu, tekanan, pH, dan senyawa yang terdapat dalam air baku.
Alat penurunan kadar Fe dengan sistem aerasi metode spray dibuat dari bahan alumunium dengan skema sebagai berikut
Proses pengolahan kadar Fe dengan model spray dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.Air baku ditampung di bak equalisasi
2.Atur debit aliran air baku
3.Air akan mengalir di bejana alumunium berlubang
4.Selanjutnya air akan mengalir ke bejana alumunium lain yang ada dibawahnya dan akan terjadi percikan air, sehingga terjadi proses aerasi
5.Setelah proses aerasi selesai air akan keluar di pipa outlet dan ditampung di bak penampung akhir atau bisa dilanjutkan ke proses selanjutnya.