This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Sunday, 22 March 2015

Pemeriksaan Lymphatic Filariasis Pada Sediaan Darah Jari

Pendahuluan
Beberapa penyakit tropis yang terabaikan (Neglected Tropical Diseases, NTD) masih ditemukan pada populasi miskin di negara berkembang. Terdapat 17 jenis penyakit NTD yang berasal dari 4 jenis agen/penyebab penyakit yang berbeda yaitu virus, bakteri, cacing, maupun protozoa. Salah satu penyakit NTD yang disebabkan oleh cacing dan saat ini masih ditemukan di Indonesia adalah lymphatic filariasis.1
 Lymphatic filariasis atau lebih dikenal sebagai penyakit kaki gajah (elephantiasis) adalah penyakit infeksi akibat cacing filaria (mikrofilaria). Ada 3 spesies mikrofilaria penyebab penyakit ini yaitu Wuchereria bancrofti (ditemukan pada 90% kasus filariasis di dunia), Brugia malayi, dan Brugia timori.2,3 Semua spesies tersebut terdapat di Indonesia, namun lebih dari 70% kasus filariasis di Indonesia disebabkan oleh Brugia malayi.4
Manusia terinfeksi melalui gigitan nyamuk vektor yang mengandung larva infektif (L3) dari spesies mikrofilaria tersebut. Meskipun jarang menimbulkan kematian, cacing filaria yang berkembangbiak di dalam pembuluh limfe akan menyebabkan kerusakan dan penyumbatan pada saluran limfatik dan pada stadium akhir dari kasus kronis sering ditemukan pembengkakan (kecacatan) pada kaki, tangan, maupun organ genital. Upaya pencegahan dan infeksi awal dapat dilakukan dengan pemberian obat anti-filaria. Namun pada kondisi yang sudah terjadi pembengkakan diperlukan langkah dan tata laksana kasus yang berbeda.1,4  Pada tahun 2000 lalu, WHO membentuk Global Programme to Eliminate Lymphatic Filariasis (GPELF) dengan maksud untuk mengeliminasi penyakit ini pada 2020.5
               
Diagnosa Laboratorium
Baku emas pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa filaria adalah pemeriksaan secara mikroskopis pada sediaan darah jari (SDJ). Pengambilan sampel darah dilakukan pada pukul 22.00 malam sampai 02.00 dini hari sesuai periodisitas dari spesies cacing filaria. Namun saat ini di pasaran telah tersedia kit immunochromatographic card test (ICT) yang mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Teknik ini untuk mendeteksi adanya antigen dari W. bancrofti dari sampel dengan membutuhkan 100 uL darah.6 Ada pula uji cepat untuk mendeteksi antibodi terhadap Brugia spesies (Brugia Rapid Test). Pengambilan sampel darah dapat dilakukan pada siang maupun malam hari. Teknik pemeriksaan filaria pada sediaan darah jari (SDJ) akan dijelaskan di bawah ini7.
A.      Pembuatan Sediaan Darah Jari untuk Pemeriksaan Mikrofilaria dalam Darah Tepi
1.         Kenakan sarung tangan sebelum memulai proses;
2.         Siapkan kaca slide berlabel yang bersih dan bebas lemak, beri label/kode;
3.         Bersihkan ujung jari yang akan diambil darahnya (jari tengah atau jari manis) dengan kapas alkohol dan keringkan dengan kapas atau tisu yang bersih;
4.         Tusuk sisi bagian dalam jari dengan menggunakan jarum penusuk yang steril;
5.         Tekan jari tersebut dengan lembut dan kumpulkan 60 uL darah ke dalam tabung kapiler non heparin yang telah ditera;
6.         Posisikan tabung kapiler secara horizontal (merata) saat mengumpulkan darah agar darah dapat masuk ke dalam tabung dengan lancar;
7.         Bersihkan sisa darah pada ujung jari dengan kapas dan pasien diminta memegang kapas tersebut sampai darah berhenti mengalir;
8.         Teteskan darah dalam tabung kapiler di tiga titik pada permukaan kaca slide secara berseling (masing-masing titik 20 uL darah). Dengan tutup jarum penusuk, ratakan darah membentuk tiga jalur paralel seperti pada gambar 1 dibawah ini (masing-masing jalur paralel darah berukuran lebar X panjang = 0,5 X 4 cm). Untuk memudahkan dapat diletakkan pola panjang hapusan darah di bawah kaca slide;
9.         Biarkan sediaan darah pada kaca slide mengering dengan menempatkannya pada posisi horizontal di tempat yang aman sampai proses pengumpulan darah selesai.
B.      Pewarnaan Sedian Darah Jari
1.         Lakukan pewarnaan sediaan darah, 24 - 32 jam setelah pengambilan darah dan sediaan darah sudah kering sempurna dengan bantuan udara;
2.         Dehemoglobinasi sediaan darah menggunakan air suling atau air kemasan botol merek tertentu yang memiliki pH 7,2 dengan cara merendam sediaan darah di dalam air sampai air berwarna merah dan jalur paralel darah pada slide berwarna putih susu. Buang air dengan hati-hati, kemudian susun slide dalam rak pewarnaan dan dibiarkan mengering di udara selama 10-20 menit;
3.         Teteskan metanol pada slide yang sudah kering selama 1 menit;
4.         Lanjutkan dengan pewarnaan menggunakan larutan Giemsa 3% selama 30 menit;
5.         Bersihkan warna larutan Giemsa yang menempel pada kaca slide dengan mencelupkannya ke dalam sebaskom air kemudian slide dibiarkan kering sempurna dengan bantuan udara. Slide diposisikan berdiri dengan kemiringan 45 derajat agar air dapat mengalir turun. Apabila tidak dapat langsung diperiksa, simpan slide di dalam kotak slide.
C.      Pemeriksaan Mikroskopis
1.         Untuk menemukan filaria pada preparat digunakan perbesaran obyektif 10X10; 
2.     Jumlah mikrofilaria yang ditemukan di semua lapangan pandang dihitung. Agar tidak terlewatkan dan setiap lapangan pandang dapat diperiksa, pengamatan dimulai dari tepi kiri kemudian digeser ke kanan sampai tepi preparat. Dilanjutkan ke bidang pandang berikutnya dan menggeser ke arah yang berlawanan ke tepi lagi. 
 (indaryati)
Pustaka
1.       WHO, n.d., The 17 Neglected Tropical Diseases, diakses dari http://www.who.int/neglected_diseases/diseases/en/, tanggal 1 Juli 2014
2.       WHO, Maret 2014, Lymphatic Filariasis,  diakses dari http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs102/en/, tanggal 1 Juli 2014
3.       WHO, n.d., Filariasis, diakses dari  http://www.who.int/topics/filariasis/en/ ; tanggal 1 Juli 2014
4.       Kemenkes RI, Juni 2010, Filariasis di Indonesia, Buletin Jendela Epidemiologi, Volume 1, Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementrian Kesehatan RI, diakses dari http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/BULETIN%20FILARIASIS.pdf , tanggal 1 Juli 2014
5.       WHO, n.d., Continue to March towards Elimination of Lymphatic Filariasis, diakses dari http://www.searo.who.int/entity/vector_borne_tropical_diseases/topics/lymphatic_filariasis/Progress_LF/en/, tanggal 1 Juli 2014
6.       WHO, n.d., Form of Lymphatic Filariasis and Diagnosis,  diakses dari  http://www.who.int/lymphatic_filariasis/epidemiology/epidemiology_forms/en/,  tanggal 1 Juli 2014  
7.    Kemenkes RI, 2014, Panduan Pemeriksaan Lymphatic Filariasis Dengan Metode Survei Darah Jari, Subdit Filariasis dan Kecacingan, Ditjen P2PL, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta
 

Saturday, 3 March 2012

Agent Penyebab Penyakit Malaria

Malaria adalah penyakit tular vektor. Program pemberantasan penyakit malaria tergolong komplek karena terkait dengan aspek penyebab penyakit yaitu parasit, lingkungan baik fisik maupun biologis dan nyamuk sebagai vektor penular. Karena itu untuk tercapainya target eliminasi malaria maka program pemberantasan penyakit malaria harus dilaksanakan secara bersama dengan para mitra terkait dan menjadi bagian integral dari pembangunan nasional.

Dari aspek penyebab penyakit, ketepatan untuk menentukan jenis parasit (spesies Plasmodium) yang menginfeksi menjadi sangat penting. Hal ini karena berkaitan dengan jenis pengobatan yang akan dilakukan agar tidak terjadi resistensi terhadap obat. Gold standart untuk menentukan jenis Plasmodium adalah dengan pemeriksaan hapusan darah tetes tebal/tipis menggunakan mikroskop. Dalam hal ini peran seorang mikroskopis menjadi penentu. Seorang mikroskopis minimal harus mengetahui siklus hidup Plasmodium, jenis spesies yang menginfeksi, dan cara pembuatan sediaan darah yang baik. 

Berikut ini ulasan singkat mengenai jenis spesies Plasmodium yang bisa menyebabkan penyakit malaria, siklus hidup Plasmodium, dan cara pembuatan sediaan darah yang baik. 
1. Spesies Plasmodium Penyebab Penyakit Malaria 
    Sebagaimana diketahui penyakit malaria disebabkan oleh infeksi salah satu dari empat spesies utama dari Genus Plasmodium yaitu P. falciparum, P. vivax, P. ovale atau P. malariae2. Plasmodium falciparum adalah penyebab Malaria tropika yang dapat menyebabkan malaria yang berat/malaria otak yang fatal. Plasmodium vivax menyebabkan malaria yang dikenal dengan istilah Malaria tertiana dimana gejala serangannya timbul berselang setiap tiga hari. Malaria quartana disebabkan oleh Plasmodium malariae. Sedangkan Plasmodium ovale adalah spesies yang jarang ditemukan di wilayah Indonesia. Spesies ini banyak ditemukan di Afrika dan Pasifik Barat. 
2. Siklus Hidup Parasit Malaria 
    Manusia dapat terinfeksi parasit malaria apabila digigit oleh nyamuk betina yang dalam kelenjar liurnya terkandung sporozoit Plasmodium. Selanjutnya sporozoit akan masuk ke sel parenchim hati untuk berkembang biak secara aseksual yang disebut siklus pre-eritrositik. Lamanya siklus ini bervariasi tergantung dari spesiesnya. Schizont akan pecah menjadi ribuan merozoit yang sebagian akan menempel pada reseptor spesifik pada sel darah merah sehingga disebut siklus eritrositik. Bentuk stadium paling awal yang dapat ditemukan pada sediaan darah adalah bentuk cincin (ring form) atau bentuk tropozoit muda. Pada sediaan darah dengan pewarnaan giemsa terlihat seperti cincin dengan sitoplasma berwarna biru dan inti (nucleus) berwarna merah. Kemudian tropozoit muda akan membesar berbentuk amuboid atau seperti pita. Inti akan membelah dan terbentuk schizont. Pembelahan inti berurutan terjadi. Merozoit yang terbentuk akan memecah eritrosit dan melekat pada eritrosit yang tidak berparasit. Sebagian kecil merozoit yang masuk ke dalam sel darah merah akan berkembang menjadi gametosit jantan dan betina. Gametosit ini tidak memecah eritrosit tetapi tertelan oleh nyamuk pada saat nyamuk menggigit manusia yang terinfeksi Plasmodium. Selanjutnya dalam lambung nyamuk, parasit malaria akan mengalami perubahan stadium dan dikenal sebagai siklus sporogoni. Mikrogamet dan makrogamet akan mengalami perkembangbiakan secara seksual dalam tubuh nyamuk dan menghasilkan zigot. Kemudian zigot akan berkembang menjadi ookinet yang selanjutnya menjadi ookista. Ookista akan berkembang dan akhirnya pecah menjadi sporozoit. Sporozoit dalam kelenjar ludah nyamuk ini telah siap untuk ditularkan ke manusia sehat melalui gigitannya. Berikut ini adalah siklus hidup parasit malaria dalam tubuh nyamuk (seksual) dan manusia (aseksual). 

Siklus Hidup Plasmodium dalam tubuh nyamuk dan manusia


3. Pembuatan Sediaan Darah 
    Mutu sediaan darah dan pewarnaannya sangat menentukan ketepatan diagnosa. Oleh karena itu pengetahuan tentang cara pembuatan sediaan darah dan pewarnaannya tidak dapat dikesampingkan. Hal ini termasuk pemilihan kaca sediaan (obyek glass), proses pengecatan/ pewarnaan sediaan dan kualitas cat Giemsa yang digunakan. 
    Untuk pembuatan sediaan darah malaria diperlukan obyek glass yang bersih tidak berdebu, tidak berlemak atau mengandung alkohol, jernih/tidak kusam atau bergores, dan ketebalan antara 1,1-1,3 mm3. Langkah-langkah pembuatan sediaan darah malaria dan pewarnaan dengan menggunakan cat Giemsa adalah sebagai berikut: 
a.Siapkan peralatan yang dibutuhkan yaitu obyek glass yang siap pakai, lancet steril, kapas, alkohol 70%, dan catatan/buku. 
b.Ambil kaca sediaan yang telah disiapkan tanpa menyentuh bagian permukaan. 
c.Pegang jari manis/tengah pasien, bersihkan ujung jari dengan kapas alkohol. 
d.Tusuk ujung jari agak dipinggir dengan cepat, jari jangan terlalu basah karena alkohol. Untuk bayi berusia kurang dari 6 bulan dapat diambil dari bagian tumit kaki, dan pada bayi berusia 6-12 bulan dapat ditusuk pada bagian ujung jempol kaki. 
e.Tetes darah pertama dilap dengan kapas kering 
f.Tetes darah selanjutnya yang digunakan untuk sediaan. Banyaknya sediaan dan ketebalan sediaan yang dibuat tergantung kebutuhan. Untuk Passive Case Detection, dibuat 1 sediaan tetes tebal pada 1 obyek glass, sedangkan untuk Active Case Detection dibuat 2 sediaan tetes tebal pada 1 obyek glass. Namun jika menghendaki tetes tebal dan tipis pada 1 obyek glass maka dari tetes kedua diambil untuk membuat tetes tebal kemudian tetes ketiga dan keempat diambil untuk membuat hapusan darah. 
g.Letakkan obyek glass (sediaan darah yang masih basah) pada tempat yang datar, ditunggu sampai kering kemudian baru dapat dilakukan pengecatan, jangan lupa diberi kode/etiket. 
h.Ada beberapa teknik pengecatan yang digunakan. Salah satunya adalah teknik pengecatan untuk kegiatan Passive Case Detection, formula cat yang digunakan adalah cat Giemsa 10% dengan lama pengecatan 15-20 menit. Untuk kegiatan Active Case Detection menggunakan cat Giemsa 5% dengan lama pengecatan 45-60 menit. Larutan Giemsa kerja ini harus selalu dibuat baru dengan mengencerkan larutan Giemsa stok menggunakan buffer. Sediaan tetes tebal tidak perlu difiksasi sedangkan tetes tipis dapat difiksasi dengan metanol selama 1-2 menit sebelum dilakukan pengecatan dengan cat Giemsa. Cat Giemsa harus menutupi seluruh permukaan sediaan darah. Guyur sediaan dengan air mengalir pada akhir pengecatan untuk menghilangkan endapan zat warna. Biarkan sediaan kering di udara sebelum dilakukan pemeriksaan dengan mikroskop. 

4.  Gambaran Stadium Parasit Malaria pada Sediaan Darah 
     Bentuk stadium parasit malaria pada sediaan darah antara spesies satu dengan spesies Plasmodium yang lain ada yang susah dibedakan karena kemiripannya, namun ada pula yang berbentuk spesifik sehingga mudahk untuk menentukan jenis spesiesnya. Stadium tropozoit adalah stadium terpanjang dalam satu siklus kehidupan parasit sehingga bentuk ini mudah ditemukan pada hampir semua sediaan darah yang positif malaria. Tropozoit bentuk cincin (ring form) dapat ditemukan pada semua spesies namun tidak dapat dibedakan jenis (spesiesnya). Apabila ditemukan tropozoit bentuk cincin, perlu dicari stadium yang lain dari parasit untuk menentukan spesiesnya. Bentuk amuboid hanya ditemukan pada Plasmodium vivax, sehingga bentuk ini dipakai sebagai ciri khas untuk menentukan tropozoit Plasmodium vivax. Bentuk/stadium parasit yang kemungkinan dapat ditemukan pada sediaan darah adalah stadium schizont. Stadium ini jarang ditemukan pada sediaan darah karena masa sporulasi pada siklus kehidupan parasit sangat pendek. Bentuk schizont dapat ditemukan pada sediaan darah apabila pengambilan sampel darah dilakukan pada jam sebelum atau setelah sporulasi (menggigil). Namun pada umumnya penderita tidak mampu pergi ke unit kesehatan pada kondisi klinis yang berat. Gametosit Plasmodium falciparum sangat khas yakni berbentuk seperti buah pisang. Bentuk ini sangat spesifik sehingga dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa. Gametosit P. vivax dan P. malariae kurang dapat dibedakan, demikian juga dengan stadium tropozoit dewasa pra-schizont. Apabila sediaan darah positif stadium gametosit, hal ini mengindikasikan bahwa pasien terlambat ditemukan. Stadium gametosit dapat ditemukan pada darah tepi paling cepat 1 minggu sampai 10 hari setelah demam pertama. Berikut gambaran bentuk Plasmodium pada sediaan darah. 
(Indaryati) 

 Morfologi Stadium Plasmodium pada Sediaan Tetes Tipis

Friday, 2 March 2012

Penyakit Kusta dan Permasalahnnya

Permasalahan penyakit kusta ini bila dikaji secara mendalam merupakan permasalahan yang sangat kompleks dan merupakan permasalahan kemanusiaan seutuhnya, bukan medis saja namun juga masalah social ekonomi serta psikososial. Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang masih merupakan masalah nasional kesehatan masyarakat, dimana beberapa daerah di Indonesia prevalens rate masih tinggi dan permasalahan yang ditimbulkan sangat komplek. Masalah yang dimaksud bukan saja dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan sosial. Masalah-masalah tersebut dapat mengakibatkan penderita kusta menjadi tuna sosial, tuna wisma, tuna karya dan ada kemungkinan mengarah untuk melakukan kejahatan atau gangguan di lingkungan masyarakat. Pada umumnya penyakit kusta terdapat di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, dan sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah. Hal ini sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai di bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan social ekonomi pada masyarakat. Dampak sosial terhadap penyakit kusta ini sedemikian besarnya, sehingga menimbulkan keresahan yang sangat mendalam. Tidak hanya pada penderita sendiri, tetapi pada keluarganya, masyarakat dan negara. Hal ini yang mendasari konsep perilaku penerimaan periderita terhadap penyakitnya, dimana untuk kondisi ini penderita masih banyak menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit menular, tidak dapat diobati, penyakit keturunan, kutukan Tuhan, najis dan menyebabkan kecacatan. Akibat anggapan yang salah ini penderita kusta merasa putus asa sehingga tidak tekun untuk berobat. Penderita kusta tidak teratur berobat karena mereka merasa malu dengan penyakit yang diderita (Marhaento Budi, P.F_ dkk , 2002). Hal ini dapat dibuktikan dengan kenyataan bahwa penyakit ini mempunyai kedudukan yang khusus diantara penyakit penyakit lain. Hal ini disebabkan oleh karena adanya leprophobia (rasa takut yang berlebihan terhadap kusta). Leprophobia ini timbul karena pengertian penyebab penyakit kusta yang salah dan cacat yang ditimbulkan sangat menakutkan. Dari sudut pengalaman nilai budaya sehubungan dengan upaya pengendalian leprophobia yang bermanifestasi sebagai rasa jijik dan takut pada penderita kusta tanpa alasan yang rasional. Terdapat kecenderungan bahwa masalah kusta telah beralih dari masalah kesehatan ke masalah sosial. Leprophobia masih tetap berurat akar dalam seleruh lapisan masalah masyarakat karena dipengaruhi oleh segi agama, sosial, budaya dan dihantui dengan kepercayaan takhyul. Fhobia kusta tidak hanya ada di kalangan masyarakat jelata, tetapi tidak sedikit dokter-dokter yang belum mempunyai pendidikan objektif terhadap penyakit kusta dan masih takut terhadap penyakit kusta. Selama masyarakat kita, terlebih lagi para dokter masih terlalu takut dan menjauhkan penderita kusta, sudah tentu hal ini akan merupakan hambatan terhadap usaha penanggulangan penyakit kusta. Akibat adanya phobia ini, maka tidak mengherankan apabila penderita diperlakukan secara tidak manusiawi di kalangan masyarakat. Sejarah Kusta, penyakit ini masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke IV-V yang diduga dibawa oleh orang-orang India yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan agamanya dan berdagang. Penyebab Kusta, penyakit kusta disebabkan oleh kuman yang dimakan sebagai microbakterium, dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang yang tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil “tahan asam”. Selain banyak membentuk safrifit, terdapat juga golongan organism patogen (misalnya Microbacterium tubercolose, Mycrobakterium leprae) yang menyebabkan penyakit menahun dengan menimbulkan lesi jenisgranuloma infeksion Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau tipe dari penyakit tersebut, Namun dalam tulisan ini hanya akan disajikan tanda-tanda secara umum tidak terlampau mendetail, agar dikenal oleh masyarakat awam, yaitu: 1.Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia. 2.Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak. 3.Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus seryta peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat. 4.Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yarig tersebar pada kulit. 5.Alis rambut rontok. 6.Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa). Sampai saat ini penyakit kusta masih ditakuti oleh sebagian besar masyarakat. Keadaan ini terjadi karena pengetahuan yang kurang, pengertian yang salah, dan kepercayaan yang keliru tentang penyakit kusta dan kecacatan yang ditimbulkannya. Padahal, berkat kemajuan teknologi pengobatan dengan Multi Drug Treatment (MDT) dan pemanfaatan teknologi komunikasi mutakhir, seharusnya penyakit kusta sudah dapat diatasi dan tidak menjadi masalah kesehatan lagi. Namun, karena permasalahan penyakit kusta sangat kompleks, maka pemberantasan penyakit kusta tidak mungkin dilaksanakan sendiri oleh Kementerian Kesehatan tanpa bermitra dengan berbagai program dan sektor, baik dalam upaya pemberantasan, rehabilitasi medis, maupun rehabilitasi sosial/ekonomi. Oleh karena itu, perlu dukungan dan kerjasama dari seluruh lintas sektor terkait dalam pemberantasan kusta di Tanah Air. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan strategi global untuk terus berupaya menurunkan beban penyakit kusta dalam: ”Enhanced global strategy for futher reducing the disease burden due to leprosy 2011 – 2015”; dimana target yang ditentukan adalah penurunan sebesar 35% angka cacat kusta pada akhir tahun 2015 berdasarkan data tahun 2010. Dengan demikian, tahun 2010 merupakan tonggak penentuan pencapaian target tersebut. Penetapan Hari Kusta (Leprosy Day) diperjuangkan oleh seorang wartawan Perancis bernama Raoul Fallereau. Selama 30 tahun Raoul Fallereau mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nasib penderita kusta dan untuk menghilangkan stigma sosial di masyarakat. Pada tahun 1955, terdapat 150 radio dari 60 negara yang menyiarkan kampanye pemberantasan penyakit kusta. Peristiwa ini terjadi pada hari Minggu terakhir bulan Desember 1955. Sejak itu di Eropa, Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) ditetapkan hari Minggu terakhir Desember. Sedangkan di negara-negara Asia, untuk mengenang jasa-jasa Mahatma Gandhi, yang sangat menaruh perhatian dan besar jasanya kepada penderita kusta, Hari Kusta Sedunia ditetapkan pada Minggu terakhir Januari, untuk memperingati terbunuhnya Mahatma Gandhi. Di Indonesia penderita kusta terdapat hampir diseluruh daerah dengan penyebaran yang tidak merata. Suatu kenyataan, di Indonesia bagian Timur terdapat angka kesakitan kusta yang lebih tinggi. Penderita kusta 90% tinggal diantara keluarga mereka dan hanya beberapa persen saja yang tinggal dirumah sakit kusta, koloni penampungan atau perkampungan kusta. Prevalensi kusta di Indonesia cenderung menurun dari tahun ke tahun. Tahun 1986 ditemukan 7,6 per 10.000 penduduk menjadi 5,9 per 10.000 penduduk. Pada tahun 1994 terjadi lagi penurunan menjadi 2,2 per 10.000 penduduk dan menjadi 1,39 per 10.000 penduduk pada tahun 1997.Penurunan prevalensi penyakit kusta ini karena kemajuan di bidang teknologi promotif, pencegahan, pengobatan serta pemulihan kesehatan di bidang penyakit kusta (Hismawi, 2001). Penyebaran sejumlah penyakit tropis, seperti malaria, kusta atau lepra, dan filariasis atau kaki gajah, hingga kini tidak teratasi. Penyakit kaki gajah, misalnya, pada tahun 2000 berjumlah 4.472 penderita, tahun 2005 berdasarkan data Departemen Kesehatan melonjak menjadi 10.239 penderita. Masalah-masalah yang ditimbulkan akibat penyakit kusta, seseorang yang merasakan dirinya menderita penyakit kusta akan mengalami trauma psikis. Sebagai akibat dari trauma psikis ini, si penderita antara lain sebagai berikut : a.Dengan segera mencari pertolongan pengobatan. b.Mengulur-ulur waktu karena ketidaktahuan atau malu bahwa ia atau keluarganya menderita penyakit kusta. c.Menyembunyikan (mengasingkan) diri dari masyarakat sekelilingnya, termasuk keluarganya. d.Oleh karena berbagai masalah, pada akhirnya si penderita bersifat masa bodoh terhadap penyakitnya. Sebagai akibat dari hal-hal tersebut diatas timbullah berbagai masalah antara lain: 1.Masalah terhadap diri penderita kusta. Pada umumnya penderita kusta merasa rendah diri, merasa tekan batin, takut terhadap penyakitnya dan terjadinya kecacatan, takut mengahadapi keluarga dan masyarakat karena sikap penerimaan mereka yang kurang wajar. Segan berobat karena malu, apatis, karena kecacatan tidak dapat mandiri sehingga beban bagi orang lain (jadi pengemis, gelandangan dsb). 2.Masalah Terhadap Keluarga. Keluarga menjadi panik, berubah mencari pertolongan termasuk dukun dan pengobatan tradisional, keluarga merasa takut diasingkan oleh masyarat disekitarnya, berusaha menyembunyikan penderita agar tidak diketahui masyarakat disekitarnya, dan mengasingkan penderita dari keluarga karena takut ketularan. 3.Masalah Terhadap Masyarakat. Pada umumnya masyarakat mengenal penyakit kusta dari tradisi kebudayaan dan agama, sehingga pendapat tentang kusta merupakan penyakit yang sangat menular, tidak dapat diobati, penyakit keturunan, kutukan Tuhan, najis dan menyebabkan kecacatan. Sebagai akibat kurangnya pengetahuan/informasi tentang penyakit kusta, maka penderita sulit untuk diterima di tengah-terigah masyarakat, masyarakat menjauhi keluarga dari perideita, merasa takut dan menyingkirkannya. Masyarakat mendorong agar penderita dan keluarganya diasingkan. Dien

Jeruk Dapat Mengurangi Resiko Stroke

Peneliti mengklaim bahwa jeruk dan grapefruit (sejenis jeruk, namun berukuran besar seperti jeruk bali) dapat mengurangi resiko stroke. Kedua buah tersebut baik dikonsumsi utuh maupun dalam bentuk jus di pagi hari. Ini terjadi karena jeruk dan grapefruit mengandung zat antioksidan tertentu yang bernama flavanones. Penelitian ini memang melibatkan ribuan wanita yang ikut dalam Studi Kesehatan Perawat di Amerika, namun juga dipercaya sama efeknya terhadap lelaki. Memakan waktu hampir 14 tahun, 69.622 wanita tersebut melaporkan asupan makanan mereka termasuk rincian tentang konsumsi buah dan sayur setiap 4 tahun. Fakta yang terlihat adalah wanita yang mengkonsumsi flavanones jumlah tinggi dalam jeruk memiliki risiko 19 persen lebih rendah terkena stroke akibat darah yang membeku (iskemik) daripada wanita yang mengkonsumsi dengan jumlah yang sedikit. Dibutuhkan sekitar 45mg flavanones sehari untuk mengurangi resiko stroke yang bisa didapatkan dari segelas jus jeruk. Namun peneliti tersebut juga menegaskan bahwa mengkonsumsi jenis buah dan sayur lain sebagai bentuk diet seimbang akan sangat berpengaruh terhadap resiko stroke. Sumber Dailymail

Thursday, 1 March 2012

Puasa Lancar, Badan Tetap Bugar

Setiap tahun Umat Islam akan menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Puasa diyakini memberikan dampak positif bagi tubuh manusia, dan telah dilakukan banyak penelitian atas manfaatnya.

Fisiologi Puasa
Puasa secara fisiologis adalah membatasi asupan makanan dan minuman antara terbit fajar sampai dengan terbenam matahari. Lamanya bervariasi, tergantung letak geografis suatu daerah di bumi yang berpengaruh terhadap lamanya siang dan malam. Di Indonesia, lama waktu puasa antara 12 sampai dengan 14 jam. Pada saat menjalankan puasa sesungguhnya, perut tidak mutlak kosong. Sisa makan sahur masih akan berada dalam saluran cerna dan dicerna sempurna selama kurang lebih delapan jam. Dengan demikian, hanya sekitar empat jam lambung dalam kondisi nyaris kosong. Getah lambung yang dihasilkan akan mencerna sisa endapan lemak dan residu bahan pangan yang mungkin masih lengket di dinding usus. Jika dilakukan dalam jangka waktu satu bulan, maka akan didapati suasana saluran cerna yang relatif bersih dan kondusif untuk mencerna dan menyerap zat gizi dari bahan pangan yang dikonsumsi. Kondusifitas semacam ini akan terjadi selama bulan puasa jika orang yang berpuasa tidak berbuka dengan cara makan berlebihan, cukup makan biasa dengan mengisi sepertiga lambung dengan padatan, sepertiganya cairan dan sepertiga lagi udara.
Dalam keadaan puasa sempurna, saluran cerna relatif diistirahatkan, sehingga kebutuhan oksigen tidak terlalu tinggi, dan oksigen yang ada disebarkan secara merata ke semua organ termasuk otak. Hasilnya adalah semua organ tercukupi kebutuhan oksigennya dan dapat menjalankan fungsinya dengan lebih baik. Jika semua organ bisa berfungsi optimal, maka orang yang berpuasa akan mendapatkan kondisi kesehatannya yang optimal pula. Otak yang berfungsi optimal akan memudahkan proses berfikir dan menganalisis.
Di luar Ramadhan (saat tidak berpuasa), jika merasa lapar biasanya orang akan makan. Ketika berpuasa, rasa lapar itu harus dibiarkan sampai tiba waktunya berbuka. Membiarkan sinyal lapar untuk beberapa jam itu sebenarnya adalah memberi kesempatan pembersihan optimal saluran cerna oleh getah lambung dan enzim pencernaan, dari sampah dan residu makanan selama sebelas bulan sebelumnya. Selanjutnya, saluran cerna yang tidak dibebani oleh bahan pangan berlebihan saat berpuasa, akan memberi waktu yang cukup bagi perbaikan seluler pada dinding usus. Sel-sel yang rusak akibat gesekan fisik maupun kimia selama sebelas bulan tentu banyak yang mengalami trauma histologis. Dengan mengurangi beban pencernaan selama sebulan, maka kondisi seluler dinding usus akan kembali ke keadaan sehat, fit, dan optimal, serta siap menjalankan tugas berat mencerna makanan sebelas bulan berikutnya.
Manfaat Puasa Bagi Kesehatan
Setelah memahami fisiologif puasa, jelas banyak manfaat yang dapat diberikan dengan berpuasa , antara lain :
• Selama berpuasa, tubuh akan mengistirahatkan sistem pencernaan. Energi yang cukup besar untuk melakukan proses pencernaan ini akan disimpan untuk menyembuhkan diri dan memperbaiki sel tubuh. Energi akan digunakan untuk membersihkan racun dari usus, darah, serta menyembuhkan sel-sel tubuh dari berbagai penyakit.
• Berpuasa mampu menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh, memperbaiki fungsi hormon, meremajakan sel-sel tubuh, serta meningkatkan fungsi organ tubuh.
• Puasa meningkatkan fungsi organ reproduksi. Hal ini terkait dengan peremajaan sel-sel yang berpengaruh pada sel-sel urogenitalis dan alat-alat reproduksi lainnya. Hormon yang berkaitan dengan masalah perilaku seksual dihasilkan oleh organ indung telur (estrogen) dan testis (testosteron), dan kelenjar hipofisis.
• Menambah jumlah sel darah putih dan meningkatkan daya tahan tubuh. Pada minggu pertama puasa belum ditemukan pertumbuhan sel darah putih. Namun, mulai hari ketujuh (minggu kedua), penambahan sel darah putih pesat sekali.
• Meningkatkan fungsi organ tubuh. Puasa akan memberikan rangsangan terhadap seluruh sel, jaringan, dan organ tubuh. Efek rangsangan ini akan menghasilkan, memulihkan, dan meningkatkan fungsi organ sesuai fungsi fisiologisnya, misalnya panca indra menjadi lebih tajam.
• Puasa memperkecil sirkulasi darah sebagai perimbangan untuk mencegah keluarnya keringat dan uap melalui pori-pori kulit serta saluran kencing tanpa perlu menggantinya. Menurunnya curah jantung dalam mendistribusikan darah ke seluruh pembuluh darah akan membuat sirkulasi darah menurun. Dan ini memberi kesempatan otot jantung untuk beristirahat, setelah bekerja keras satu tahun lamanya. Puasa akan memberi kesempatan pada jantung untuk memperbaiki vitalitas dan kekuatan sel-selnya.
• Memperbaiki fungsi hormon yang diperlukan dalam berbagai proses fisiologis dan biokimia tubuh. Hormon dikeluarkan oleh kelenjar endokrin dan hipofisis sebagai reaksi tubuh terhadap berbagai tekanan dan stress lingkungan. Kekurangan atau kelebihan produksi hormon tertentu akan berdampak buruk pada kesehatan tubuh. Misal ketika mengalami stres, hormon insulin dan adrenalin yang mengatur waktu lapar terganggu sehingga nafsu makan hilang atau bahkan datang lebih cepat. Kekurangan produksi hormon insulin berakibat munculnya penyakit diabetes, sedangkan bila berlebihan tubuh akan menderita hiperglikemia. Pada saat puasa , konisi lapar dan lesu secara psikologis akan menurunkan tingkat emosi sehingga respon terhadap tekanan dan stress dari lingkungan lebih mudah dihadapi.

Menjaga Kebugaran Selama Berpuasa
Berpuasa tidak perlu dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan tidak beraktivitas. Ada dua hal utama yang dapat dilakukan agar tetap bugar untuk beraktivitas selama menjalankan ibadah puasa. Yang pertama yaitu mengatur menu buka dan sahur dengan menu seimbang ; maksudnya adalah mengkonsumsi makanan yang terdiri dari karbohidrat 50-60%, protein 10-20%, lemak 20-25%, cukup vitamin dan mineral dari sayur dan buah. Selain itu, cukup serat dari sayuran untuk memperlancar buang air besar serta cukup cairan dengan minum kurang lebih 7-8 gelas sehari yang terdiri dari 3 gelas waktu sahur dan 5 gelas dari buka sampai sebelum tidur. Pembagian makan adalah 50% untuk berbuka, 10% setelah sholat tarawih, 40% pada waktu sahur. Hal kedua yang dapat dilakukan untuk menjaga kebugaran adalah berolahraga. Aktivitas olahraga yang cocok selama bulan puasa adalah olahraga jenis aerobik yang merupakan aktivitas fisik dengan menggunakan oksigen sebagai sumber energi. Aerobik dapat dilakukan dengan gerakan seimbang dan berulang-ulang seperti jalan kaki, jogging atau jika memungkinkan berenang. Atau melakukan aerobik ringan lain seperti yoga, meditasi, taichi maupun stretching. Waktu untuk berolahraga juga tidak perlu setiap hari, orang berpuasa disarankan cukup 3-5 kali seminggu selama 30 menit saja yang dapat dilakukan setelah sholat subuh atau menjelang berbuka agar cairan yang hilang ketika berolahraga dapat segera tergantikan saat berbuka.
Selain bernilai ibadah, puasa juga memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Dengan niat kuat dan pengaturan ‘gaya’ berpuasa yang baik, semoga Ramadhan kali ini dilalui dengan puasa lancar dan badan tetap bugar. Selamat menjalankan ibadah puasa. 
(anjas)

Referensi:

Nugrahalia, M. 2010. Memahami Fisiologis Puasa.
(http://waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=5236:poltabes-tunggu-kesiapan-forensik-otopsi-david&catid=45:kriminal&Itemid=132, diakses tanggal 20 Juli 2011)

Fauziyati, A. 2008. Adaptasi Fisiologis Selama Puasa
(http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/51084346.pdf, diakses tanggal 20 Juli 2011)

Adi. 2009. Manfaat Puasa Bagi Kesehatan.
(http://seputarobat.blogspot.com/2009/08/manfaat-puasa-bagi-kesehatan.html,diakses tanggal 20 Juli 2011)

Administrator. 2010. Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh.
(http://melindahospital.com/modul/user/detail_artikel.php?id=787_Manfaat-Puasa-Bagi-Kesehatan-Tubuh, diakses tanggal 20 Juli 2011)

Yep. 2009. Tips Dari Dokter Agar Tetap Bugar Dan Tidak Loyo Selama Berpuasa.
(http://yepiye.wordpress.com/2011/07/24/tips-dari-dokter-agar-tetap-bugar-dan-tidak-loyo-selama-berpuasa/, diakses tanggal 20 Juli 2011)

Poliomyelitis

Campak atau yang disebut juga Morbili adalah salah satu penyakit akut yang sangat menular. Campak disebabkan oleh Morbilivirus yang masuk dalam Family Paramixovirus. Campak sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kecacatan dan juga kematian karena komplikasinya seperti radang paru (Pneumonia), diare, radang telinga (Otitis Media), kebutaan dan radang otak (Ensefalitis) (Guris, 2002, p.2).
Penyakit campak dapat ditularkan dari percikan ludah yang keluar dari mulut atau tenggorokan penderita yang ditransmisikan melalui udara atau melalui kontak langsung dengan sekresi hidung penderita campak (Guris, 2002, p.2). Cara Kerja Campak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Di Negara yang sedang berkembang tingkat kematian diperkirakan berkisar antara 3% – 6 % dengan tingkat kematian tertinggi terjadi pada bayi berusia dibawah 12 bulan yaitu berkisar antara 20% -30%. Berbeda dengan Negara yang sedang berkembang, di Negara yang sudah berkembang tingkat kematian cenderung rendah yaitu berkisar antara 0,1 sampai 1 per 1000 kasus (Guris, 2002, p.2). 
Di Indonesia penyakit campak masih menjadi penyebab utama kematian anak di bawah umur 1 tahun dan balita umur 1 – 4 tahun. Diperkirakan lebih dari 30.000 anak/tahun meninggal karena campak (Portal Nasional Republik Indonesia, 2009) Masa inkubasi penyakit campak yang tanpa gejala biasanya berkisar antara 10-12 hari namun demikian gejala prodromal (awal) seperti demam, lesu, batuk, beringus (Coryza), dan mata merah (Conjunctivitis) bisa muncul pada waktu sekitar sekitar 7 -18 hari setelah terpapar virus campak. koplik spot pada mukosa mulut biasanya akan muncul sesaat atau sekitar 1-3 hari sebelum munculnya ruam, namun demikian tidak adanya koplik spot bukan berarti campaknya tidak akan muncul. Pada saat terjadi gejala Prodromal yang berlangsung sekitar 2-4 harimuncullah ruam yang disebut Maculopapular Rash (ruam kemerahan) pada telinga bagian belakang dan di muka. Pada tahap ini demam akan semakin tinggi dengan suhu mencapai 40,60C (1050F). Ruam kemudian akan menyebar ke leher dan akhirnya ke ekstremitas (anggota gerak tubuh, seperti tangan dan kaki). Ruam tersebut biasanya akan ada/bertahan selama 3 – 7 hari. Ruam akan menghitam, mengelupas dan menghilang sekitar 1 – 2 minggu. Adanya kulit kehitaman dan bersisik dapat merupakan tanda penyembuhan. Batuk akan muncul selama periode demam, yang berlangsung sekitar 1 – 2 minggu pada kasus yang tidak komplikasi (Guris, 2002, p.2). Penyakit campak dapat sembuh dengan sendirinya dengan asupan gizi yang baik (makan dan minum cukup) dan istirahat yang cukup. Orang yang pernah terkena Campak (terinfeksi campak secara alami) akan memperoleh Kekebalan seumur hidup (Guris, 2002, p.2). Pencegahan penyakit campak dapat dilakukan dengan imunisasi. Disamping itu gizi yang baik, pemberian vitamin A dua kali dalam setahun dan kondisi rumah yang sehat juga dapat mengurangi kejadian campak sebagaimana disimpulkan dari hasil penelitian Hendarto (2004) di Grobogan Jawa Tengah. Karena itu peneliti menyarankan untuk meningkatkan cakupan imunisasi campak,pemberiaan vitamin A dan perbaikan rumah sehat untuk menurunkan angka kejadian campak pada balita (Hendarto, 2004). Penyakit campak dapat dicegah dengan imunisasi yang diberikan saat bayi berusia 9 bulan. Pemberian imunisasi juga bisa memberikan kekebalan seumur hidup pada sebagian besar orang. Berdasarkan estimasi bersama oleh WHO dan UNICEF Indonesia masih menempati peringkat keempat di antara negara-negara dengan sejumlah besar anak-anak yang tidak divaksin atau hanya mendapatkan sebagian vaksinasi saja (UNICEF Indonesia, 2009). Pemberantasan penyakit campak dibedakan berdasarkan tahapannya yaitu: 1. Tahap Reduksi • Pada tahap ini lebih ditekankan kepada penurunan angka kematian campak karena kasus campak masih cukup tinggi dan masih endemik. • Pada phase ini kegiatan surveilans yang dilakukan adalah surveilans campak klinis dengan agregat data. Setiap KLB dilakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) dan dilakukan konfirmasi laboratorium serta peningkatan manajemen kasus. • Bagi negara yang telah melaksanakan imunisasi campak tambahan (kampanye campak) maka surveillans campak diarahkan kepada surveilans individu (case based surveillance) dengan konfirmasi laboratorium semaksimal mungkin (surveilans campak, p.7). • Tahap ini dibagi dalam 2 tahap : a. Tahap pengendalian campak Pada tahap ini ditandai dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak rutin dan upaya imunisasi tambahan di daerah dengan morbiditas campak yang tinggi. Daerah-daerah ini masih merupakan daerah endemis campak, tetapi telah terjadi penurunan insiden dan kematian, dengan pola epidemiologi kasus campak menunjukkan 2 puncak setiap tahun (pendahuluan). b. Tahap Pencegahan KLB Cakupan imunisasi dapat dipertahankan tinggi > 80% dan merata, terjadi penurunan tajam kasus dan kematian, insiden campak telah bergeser kepada umur yang lebih tua, dengan interval KLB antara 4-8 tahun. 2. Tahap Eliminasi • Cakupan imunisasi sangat tinggi > 95% dan daerah-daerah dengan cakupan imunisasi rendah sudah sangat kecil jumlahnya. • Anak-anak yang dicurigai rentan (tidak terlindung) harus diselidiki dan diberikan imuniasi campak. • Insiden campak sudah sangat rendah dan KLB campak hampir tidak pernah terjadi. • Pada phase ini surveilans campak adalah case based atau individual record yang disertai pemeriksaan laboratorium untuk semua kasus campak. • Setiap KLB harus diinvestigasi dan semua kasus tercatat secara individual (case linelisted) dan dilakukan konfirmasi laboratorium. Dan penyelidikan rumah ke rumah jika terjadi KLB. 3. Tahap Eradikasi. • Cakupan imunisasi sangat tinggi dan merata • Kasus campak sudah tidak ditemukan. • Transmisi virus campak sudah dapat diputuskan dan negara-negara di dunia sudah memasuki tahap eliminasi. (pendahuluan) Di Indonesia program pencegahan dan pemberantasan penyakit campak saat ini masih berada pada tahap Reduksi. Pemerintah Indonesia mentargetkan untuk mengurangi kasus dan mencegah kematian akibat campak hingga 90% hingga akhir tahun 2010 hal ini juga akan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan millenium tentang kesehatan anak. Untuk mencapai tujuan pengendalian penyakit Campak maka dilakukan upaya sebagai berikut: 1 . Mencapai cakupan imunisasi campak dosis pertama >90% secara nasional yang mencakup >80% Kabupaten/Kota pada tahun 2010. 2 . Penyelidikan dan manajemen kasus pada semua KLB campak tahun 2009. 3 . Melaksanakan surveilans campak berbasis kasus individu (Case Based Surveillance) bagi semua negara yang telah melaksanakan kampanye campak. 4 . Melaksanakan imunisasi campak kesempatan kedua dengan cakupan >90%. Peranan surveilans campak pada tahap Reduksi menjadi sangat penting karena dengan surveilans perkembangan program pemberantasan campak dapat dievaluasi disamping hasil surveilans campak dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan strategi pengendalian dan pemberantasan campak di setiap daerah. Kegiatan surveilans campak berbasis kasus individu dan dilaksanakan secara bertahap yaitu dari tingkat puskesmas, Rumah Sakit, Tingkat kabupaten/kota dan propinsi. Kegiatan di masing-masing tingkat tentunya berbeda-beda, hal ini telah diatur dalam Petunjuk Teknis Surveilans Campak yang diterbitkan Sub Direktorat Surveilans Epidemiologi dan Direktorat Surveilans Epidemiologi Imunisasi & Kesehatan Matra Direktorat Jenderal PP & PL Depkes RI Tahun 2008. Gejala klinis penyakit Campak seringkali menyerupai penyakit infeksi virus lainnya, maka untuk menegakkan diagnosa pasti dari suatu kasus tersangka campak adalah melalui pemeriksaan laboratorium. Karena itu Laboratorium mempunyai peran dan fungsi dalam Pengendalian Kasus Campak dan Eliminasi sebagai berikut: 1. Monitoring dan pengujian transmisi virus campak 2. Konfirmasi suatu outbreak campak 3. Konfirmasi suatu kasus campak 4. Identifikasi strain dari virus ataupun karakter genetiknya. 5. Monitoring profil dari populasi yang rentan • Melihat distribusi umur yang memerlukan imunisasi • Evaluasi dari imunisasi masal (Depkes RI, 2008, p.45) Tahap eradikasi campak mungkin masih jauh untuk diraih, diperkirakan eradikasi akan dapat dicapai dalam waktu 10 – 15 tahun setelah eliminasi. Beberapa Negara bahkan masih belum memasuki tahap eliminasi demikian halnya dengan Indonesia yang masih dalam tahap Reduksi. Namun demikian keyakinan bahwa penyakit campak dapat dieradikasi karena satu-satunya pejamu (host)/reservoir campak hanya pada manusia dan tersedianya vaksin yang mempunyai potensi yang cukup tinggi yaitu effikasi vaksin 85%, serta mudahnya virus mati karena terpapar udara dan sinar matahari seharusnya membuat langkah kita semakin mantap dalam menuju eliminasi campak. Dengan pelaksanaan strategi yang disusun berdasarkan pelaksanaan surveilans yang adekuat mungkin kita tidak perlu menunggu berpuluh tahun untuk masuk dalam tahap eradikasi malaria. (Dien)